Tuesday, August 23, 2005

Manusia-manusia Indonesia Adalah Korban… Pembodohan!

Emosi tidak stabil ditekan ulangan dan tugas, sudah tak perduli bonyok yang berada diruangan yang sama, paling dikira bikin tugas.

Sesekali, ketika aku membaca Koran, aku menemukan artikel yang mengatakan bahwa anak asli dari Indonesia telah berhasil memenangkan olimpiade IPA, dan yang paling sering kalau tidak salah adalah di bidang fisika. Tentu saja, meski tidak penting, terbesit rasa bangga sebagai penduduk Indonesia ketika saya melihat hal ini. Namun, kadang terbesit juga pikiran bahwa hal itu menunjukkan betapa ironisnya bangsa kita ini.

Oke, kenapa ironis? Pasti kalian juga sudah bisa tahu, di balik kesuksesan beberapa anak yang dengan hebatnya ikut olimpiade, dan bahkan menang, seperti yang kita semua telah tahu, di Indonesia sendiris ebenarnya amsih terdapat banayk anak yang masih tidak mendapatkan pendidikan samasekali. Hal ini tentunya benar2 sangat terbalik dengan akan yang cukup beruntung mendapatkan pendidikan yang sangat layak sampai bisa mengikuti olimpiade yang bertasraf internasional itu.

Okelah, mungkin ini ga nunjukin apa yg mau gw sampein di judul yg mengatakan korban kebodohan, ini lebih mirip korban kemiskian sehingga tak dapat membuat rakyat indo bersekolah. Namun, apakah anak-anak Indo yang bersekolah itu, atau mendapatkan pendidikan di organisasi formal itu juga dapat dikatakan tidak menyedihkan?

Coba kita lihat, orang-orang yang bersekolah di luar negri jauh lebih dihargai daripada orang-orang yang bersekolah di dalam negri. Kenapa hal itu terjadi? Apakah karena orang Indonesia bodoh? Tidak, karena orang Indonesia yang bersekolah di luar negri saja ternyata masih dianggap pintar. Kalau begitu, apakah karena ada yang salah dengan sekolahnya? Jawabannya iya.

Coba kita lihat system pendidikan Indonesia. Dimulai dari SD, kemudian SMP, dan SMA. Sepintas, dilihat dari jumlah tahun pendidikannya dapat dikatakan sama dengan luar negri. Jadi, dalam hal ini tidak bermasalah. Namun, masalahnya baru tampak setelah kita melihat sedikit lebih dalam. Lihatlah ukuran table jadwal pelajaran antara anak-anak yang sekolah di Indo, dibandingkan di Amrik, terutama ketika di jenjang SMA, atau tingkat 10-12 di sono… beda jauh! Bahakn, dapat dikatakan jadwal pelajaran anak-anak Indonesia mencapai 2 x lipat ukuran anak2 Amerika.

Apakah ini hal yang patut dibanggakan? Mungkin bagi beberapa orang iya, karena mereka menganggap dengan hal ini menunjukkan mereka menyerap ilmu yang jauh lebih beragam karena merek mempelajari jauh lebih banyak hal daripada orang luar negri. Akan tetapi apakah hal2 itu benar2 berguna? Memang di Indonesia sudah ada system keals IPA, IPS, ato Bahasa yang telah menspesialisasikan pelajaran yang didapat sampai sekitar 12 mata pelajaran setiap jenis progam, namun, apakah itu cukup membuat murid lebih terfokus apabila dibandingkan dengan negri2 luar yang cukup mempelajari sekitar 4 jenis mata pelajaran PILIHAN mereka sendiri?

Sebenarnya, seperti kata banyak orang, semua orang telah diberi kemampuan yang sama, merek amemiliki sebuah kelebihan di satu bidang, yang tentunya berakibat mereka memiliki kekurangan di bidang lainnya. Hal itu sudah ditanggapi dengan baik dengan penyusunan system pendidikan Amerika yang emmbuat anak dapat leibh terspesialisasi dalam belajar. Namun, di Indonesia, setiap anak diwajibkan untuk belajar hal2 yang benar-benar tidak cocok dengan kemampuan mereka, dan bahkan dapat menyebabakan tinggal kelas apabila pelajaran yang tidak berguna bagi mereka itu tidak berhasil mereka kekuasai, yang tentunya akan menjadi beban yang sangat berat bagi mereka. Dilihat dari hal ini, maka hasilnya sudah jelas, hasil produk pendidikan Indonesia jauh lebih tidak terarah.

Coba kita pikir, apakah seorang insinyur harus mengetahui bagaimana cara kerja enzim, atau bagaimana proses metabolisme di dalam sebuah sel??? (ini contoh korban di IPA) Lalu, apakah seorang ekonom perlu mengetahui tentang pemberontakan DI/TII yang gagal ataupun mengetahui progam2 dari cabinet Syahrir yang berumur sangat pendek itu (ini contoh dari korban di kelas IPS). Yaa, kalau menurut saya sih itu benar2 tidak, namun, di system pendidikan Indonesia? Kalau sampai seoran ganak yang ingin menjadi insinyur tak bisa menjawab mengenai metabolisme, maka ia akan mengalami kegagalan di UAN, yang juga telah memberi catatan buruk di hidupnya. Tragis? Memang.

Kalau dilihat dari itu semua, tampak bahwa system pendidikan Indonesia yang menekankan pembelajaran hal-hal yang tidak perlu itu tak lebih dari pembodohan, karena dengan pelajaran yang tidak perlu itu, seorang anak dipaksa untuk menggunakan kemampuannya menghadapi hal yang memang bukan kemampuan mereka, sehingga bahkan mereka cendrung menutupi kekurangan mereka, tanpa sempat meningkatkan kelebihan mereka, sehingga di masa depan nanti, mereka akan tampak bodoh karena mereka tidak memiliki kemampuan yang benar-benar special.

Dari seluruh yang telah saya katakana di atas, mungkin kalian hanya mendapat kebingungan, dan bahkan berkata, pentingkah ini untuk dikatakan? Namun, saya harap agar ada beberapa orang yang mengerti, dan bahkan cukup prihatin, sehingga dapat mencoba untuk mengubah system pendidikan yang absurd ini menjadi system pendidikan yang lebih baik, sehingga korban-korban pembodohan tidak terus berjatuhan setiap tahunnya… bukan setiap harinya.

3 Comments:

Blogger Desperate Houseboy said...

Tidak setuju dengan banyak hal yang diucapkan di sini.

Sejarah adalah pelajaran penting. Bangsa yang baik belajar dari kesalahan pendahulunya. Dari sini anak-anak Indonesia mengetahui masa silam bangsanya dan BISA lebih menghargainya.

BTW, sering-sering nulis kayak gini ya.

1:11 AM  
Anonymous Anonymous said...

goblok! ekonom itu selalu berpusat pada sejarah! klo gak belajar dari sejarah, gak akan maju! mikir klo ngomong!

7:52 AM  
Anonymous Anonymous said...

tulisan luh ada benernya dan ada nggaknya, yang bener sejarah penting, metabolisme penting yang paling prinsip adalah sistemnya. contoh.. belajar sejarah cukup satu tahun nggak usah dari sd sampai perguruan tinbggi dan juga pelajaran lainnya, di singkat-singkat saja gitcu lo

1:07 AM  

Post a Comment

<< Home